TES APTITUDE

Tgl 19 April 2010 kemaren aku telah melewati tes aptitude, tes tersebut adalah salah satu syarat untuk mengikuti sidang skripsi di Universitas Gunadarma. Tes itu dilakukan pada pukul 08.00 sampai 10.00. Menurutku sangat melelahkan ternyata tes psikotes itu, menguras tenaga walau soalnya tidak terlalu sulit tapi cukup membingungkan ketika menjawab karena banyak pertanyaan yang menjebak. Di sini mengerjakan soalnya berpacu dengan waktu. Untuk satu jenis soal hanya diberi waktu 10 menit sedangkan ada banyak tipe soal yang harus dikerjakan. Hampir 300 soal lebih soal yang tersedia. Huhft…benar-benar menguras pikiranku. Sebenarnya tes seperti ini sangat berguna bagi kita terutama pada saat melamar pekerjaan, karena setiap perusahaan pasti akan mengadakan tes psikotes yang kurang lebih sama seperti ini.
Dalam buku Hardi Soenanto, dkk menjelaskan bahwa tes psikologi dirancang untuk mengukur berbagai faktor psikologis tertentu. Tujuannya bagi perusahaan adalah memperkirakan apa yang akan dilakukan seseorang di masa yang akan datang. Faktor yang diukur adalah tipe psikologius seperti logika berpikir, kemampuan mempelajari temperamen dan berbagai kecakapan tertentu. Biasanya juga menyangkut pengukuran kemapuan fisik, seperti kecakapan atau kecepatan menulis atau koordinasi gerak tangan dan penglihatan.
Menurt Lee J. Cronbach dalam Essential of Psychological Testing , tujuan tes psikologi adalah mengetahui perbedaan di antara setiap kepribadian. Dalam perusahaan, para pekerjanya akan selalu berusaha untuk leboh baijk dari pekerja lain. Perbedan kepribadian individu merupakan problem utama dalam mengatur tindakan orang lain. Oleh karena itu, setiap pemimpin, manager, pekerja harus mampu mengidentifikasi masalah tersebut.
Pengetahuan ini menyajikan dua fungsi, yaitu :
1. Prediksi
Usaha prediksi mendasari setiap pemakaian tes dan menekankan perbedaan di antara masing-masing individu. Misalnya, bila diberikan pada dua orang, tes ini dapat mengungkapkan perbedaan mereka pada saat itu juga. Namun, hal itu tidak ada artinya jika perbedaan aktivitas kesehariannya tidak dapat diprediksi.
Dalam penerimaan karyawan, tes ini dilakukan dengan cepat untuk menyeleksi mereka yang memenuhi kualifikasi.
2. Diagnosa
Diagnosa merupakan fungsi tes kedua, yakni menekankan perbedaan antara sifat-sifat dari individu yang sama.
Diagnosa mencakup prediksi karena pemakai tes harus menenrukan tingkah laku yang boleh dilaksanakan dan sejauh mana pola tersebut tetap bertahan
Istilah diagnosa di sini mengacu pada analisis dan berkaitan dengan berbagai tingkah laku. Istilah ini harus dibedakan dengan diagnosa dalam arti proses penempatan subjek dalam kategori khusus, misalnya penyakit suka mengasingkan diri.
Dalam diagnosa kita harus lebih pasti mengenai hasil tes. Jika mengetahui bahwa tes memprediksi suatu tingkah laku dari 100 subjek memperoleh niali X, kita tidak perlu tahu tentang alasan nilai rendahnya.
Akan tetapi, jika perlukan diagnosa, kita perlu mengetahui ciri-ciri yang menyebabkan nilai rendah pada tes tersebut. Hal ini karena penekanan dalam diagnosa merupakan penjelasan mengenai seseorang.

DAFTAR PUSTAKA
Soenanto, Hardi. 2002. Memahami Psikotes. Bandung : CV. Pustaka Grafika.

Tentang uwiiii

suka baca novel dan suka segala sesuatu yang humoris. Ga usah terlalu serius lah tapi adakalanya keseriusan dibutuhkan dalam menghadapi sesuatu.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

5 Balasan ke TES APTITUDE

  1. biaannisa berkata:

    kaka, cara daftar tes atitude gmn ya?

  2. winnymarch berkata:

    uwii kasih contohnya dong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s